Selasa, 18 November 2014

Omega-3 Bisa Membantu Mengurangi Kebiasaan Merokok Loh!!!


Suplemen omega-3 ternyata tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan otak, namun juga mampu membantu seseorang untuk berhenti merokok.
Temuan baru ini telah diuji coba oleh para peneliti. Para perokok yang mengkonsumsi kapsul omega-3 setiap hari selama satu bulan mengalami penurunan konsumsi rokok hingga 11 persen dibandingkan dengan mereka yang diberikan pil plasebo.
Seorang ahli dari Universitas Haifa Israel, Dr Sharon Rabinovits Shenkar yang melakukan penelitian ini mengungkapkan bahwa zat dan obat-obatan yang sekarang ini banyak digunakan untuk membantu seseorang menghentikan kebiasaan merokoknya dinilai sangat tidak efektif. Justru obat-obatan tersebut dapat menyebabkan efek samping yang susah untuk diatasi.
Dokter Shenkar mengungkapkan bahwa temuan dari studi ini menunjukkan jika omega-3, suplemen makanan yang mudah ditemukan, hampir tidak memberikan efek samping jika dikonsumsi dan bahkan mampu membantu mengurangi kebiasaan merokok secara signifikan.
Merokok diketahui dapat mengurangi kadar asam lemak esensial yang ada di otak, khususnya omega-3. Dampak yang bisa ditimbulkan adalah terjadinya kerusakan struktur sel saraf dan terganggunya komunikasi saraf di area otak yang menghubungkan perasaan kepuasan dan senang.
Area otak ini sangat penting dalam hal mengambil keputusan, ketagihan, dan juga dalam hal ganjaran (rewards). Hal ini mengindikasikan bahwa kekurangan omega-3 bisa membuat seorang perokok akan lebih sulit untuk mengatasi atau mengurangi kebiasaan merokoknya.
“Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketidakseimbangan omega-3 juga berhubungan dengan kesehatan mental, stres, kemampuan untuk mengatasi tekanan, dan depresi,” katanya.
Stres dan tekanan bisa memicu keinginan untuk merokok. Padahal, bagi mereka yang berhenti merokok, umumnya level stres yang dirasakan juga meningkat.
Penelitian ini melibatkan sekitar 48 orang perokok yang telah mempunyai kebiasaan ini selama 11 tahun dan merokok kurang lebih 14 batang setiap harinya. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok secara acak.
Kelompok pertama diharuskan mengkonsumsi kapsul omega-3 950mg lima kali sehari selama satu bulan. Sedangkan kelompok lainnya mengonsumsi lima kapsul plasebo setiap harinya dengan waktu dan jumlah yang sama. Seluruh peserta tidak diminta untuk mengubah kebiasaan merokoknya.
Setelah satu bulan, para perokok dari kelompok pertama (yang diberi omega-3) diketahui mengurangi jumlah rokok mereka rata-rata 2 hari (penurunan sebesar 11%). Lebih dari itu, tingkat ketagihan mereka akan nikotin juga ikut berkurang.
Banyak makanan yang kaya akan omega-3 apabila kita tidak ingin mengkonsumsi suplemen. Makanan-makanan yang mengandung tinggi omega-3 adalah ikan salmon, trout, makarel, minyak zaitun, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
via Health Kompas | image : kimberlysnyder.net

Senin, 17 November 2014

Penanganan Psikologi pada Pasien
Oleh : Rainy Tri Kurnianingtyas
                   Masalah yang terjadi pada seseorang akan membuat seseorang stress dan depresi terlebih jika masalah itu tidak diceritakan kepada orang lain. Masalah – masalah dalam kehidupan yang sulit untuk diceritakan kepada orang lain sehingga hanya dapat dipikirkan sendiri tanpa ada solusi. Masalah akan menambah beban pikiran dan bisa menyebabkan penyakit ringan hingga fatal. Bukan hanya gangguan jiwa kadang gangguan dalam tubuh, seperti tiba-tiba terserang penyakit dalam ataupun mudah sakit.
Banyak pasien dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan gejala fisik ternyata tidak memiliki gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejalanya Sekitar  seperempat kasus baru nyeri abdomen di klinik gastroenterologi dan kasus nyeri dada atipikal di klinik kardiologi serta sebagian besar rujukan dokter  umum ke klinik neurologi tidak memiliki penyakit fisik yang relevan ( Davis & Craig, 2009, h.35).
Dengan kata lain bahwa tidak jelas apa penyebab dan faktor penyakit dari pasien, sehingga pasien tidak dapat diyakinkan dan bahkan keluar dari perawatan sebelumnya dan beralih ke klinik atau rumah sakit lain. Hal tersebut membuktikan bahwa ada faktor lain yang mendasari penyakitnya, faktor lain dalam hal ini adalah faktor psikologi. Dalam hal ini sebagai perawat selain memperhatikan gejala fisik yang terjadi pada pasien perawat juga harus bisa memperhatikan gejala psikologis yang terjadi pada pasien. Karena perawat adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan pasien dan keluarga pasien. Oleh karena itu dalam penanganan kepada pasien, perawat harus bisa menjadi konselor yaitu dengan berkomunikasi dengan jelas kepada pasien dan keluarga pasien, memiliki perhatian menyeluruh kepada pasien serta membimbing dalam selfcare . Menggunakan model psikologi perlu dalam penanganan kepada pasien .
Naismith dkk., ( 1897 ) menyebutkan bahwa betapa bermanfaatnya konseling perawat bagi pasien-pasien dengan penyakit jantung. Mereka  berpendapat bahwa para pasien yang cenderung mengalami kecemasan yang menerima konseling  merasakan hasil yang lebih baik pada bulan ke enam  daripada mereka yang tidak mendapat konseling ( Abraham & Shanley, 1997, h.148 ).
Namun penanganan  psikologis dalam pelayanan kesehatan kepada pasien masih sedikit diterapkan oleh para perawat. Kebanyakan perawat dalam penanganan pasien lebih menekankan pada penanganan fisik. Yaitu dengan pemberian obat dan fase-fase penyembuhan medis secara terus-terus. Namun terkadang dengan pelayanan seperti itu pasien tidak kunjung sembuh. Dengan melihat kejadian seperti itu pelayanan kesehatan harus melihat pula dari aspek lain bukan hanya fisik namun psikis pun penting untuk diperhatikan. Dalam hal ini perawat seharusnya mampu melihat aspek tersebut. Penanganan psikologi kepada pasien bisa membantu dalam penyembuhan pasien terutama pasien yang tidak diketahui penyebab penyakitnya. Banyak orang yang terkena penyakit dalam seperti jantung atau darah tinggi sakitnya tanpa diketahui gejala yang jelas dan dalam perawatannya tidak kunjung ada tanda-tanda sembuh. Kebanyakan pasien beralih kepada pelayanan yang menurutnya lebih bisa membuatnya sembuh yaitu pergi ke dokter atau rumah sakit lain atau bahkan ke pengobatan tradisional.
                   Untuk dapat menerapkan aspek penanganan psikologis pada pasien, sebagai perawat perlu memilki sikap memahami orang lain dan pintar dalam mengelola hubungan dengan orang lain. Sebelum memahami pasien, sebagai seorang perawat harus bisa menimbulkan kesan awal yang baik kepada pasien. Dengan kesan awal yang baik akan menentukan bagaimana sikap pasien terhadap perawat dan akan menciptakan suatu hubungan yang baik, sehingga pasien kan merasa nyaman terhadap perawat tersebut. Dalam memahami orang lain terutama pasien, sebagai seorang perawat harus mampu melihat keseluruhan aspek pada pasien. Interaksi perawat dan pasien di rumah sakit dalam 24 jam memberi kesempatan kepada perawat untuk bisa lebih memahami pasien. Dalam hal ini perawat harus terbuka dalam melibatkan dirinya dengan diri pasien yang mencakup persepsi, kecemasan , dan harapan pasien ( Abraham & Shanley, 1997 ). Dengan demikian akan meningkatkan kepercayaan dan  harga diri hubungan tersebut. Setelah kepercayaan hubungan tersebut sudah terjalin maka perawat mulai bisa mulai memahami pasien lebih jauh yaitu dengan melihat bagaimana pasien itu bersikap. Dengan meperhatikan bagaimana pasien bersikap sebagai perawat dapat melihat faktor lain dari sakit pasien. Perawat dapat melihat apakah pasien itu terdiam saja, terlihat risau ataupun tidak bisa tidur bahkan sikapnya terlalu sensitif. Mulai dari hal-hal itu perawat dapat menananyakan langsung kepada pasien apa yang sedang di pikirkan oleh pasien tersebut. Ketika perawat sudah megetahui penyebabnya perawat memberikan konseling ataupun menunjukan perhatian kepada pasien tersebut. Salah satunya yaitu dengan berempati, dengan empati  perawat dapat memahami pengalaman dan perasaan pasien seperti yang dipahami pasien itu sendiri. Sehingga diharapkan kecemasan yang dialami pasien akan berkurang.
                   Namun jika pasien tidak mau bercerita, sebagai perawat tidak dapat begitu saja memaksakan pasien tersebut untuk bercerita, oleh karena itu perawat harus mampu megembangkan aspek lain untuk bisa membantu pasien dalam penanganan psikologis pasien. Salah satunya yaitu dengan kemampuan berkomunikasi.
Banyak penelitian menunjukan bahwa komunikasi yang tepat dapat mengurangi kecemasan pasien. Mayward ( 1975 ) menemukan bahwa dengan menyediakan informasi  ekstra dapat mengurangi rasa nyeri pasien dan mengurangi penggunaan analgetika dan membantu pasien tidur pasien ( Abraham & Shanley, 1997, h.101 ).
Dalam hal ini komunikasi bukan hanya komunikasi pada tugas namun komunikasi yang menekankan pada eksplorasi kecemasan pasien. Dengan komunikasi tersebut pasien  dapat memperluas percakapan atau menyatakan permaslahan mereka sendiri tanpa dipertanyakan oleh perawat.
                   Membantu pasien dalam penyembuhannya tugas perawat selanjutnya dalam penanganan psikologis pasien untuk mengatasi masalah pasien adalah mendukung pasien dalam mempertahankan motivasi dan melakukan tindakan. Hal tersebut dilakuakan dalam upaya mendapatkan kepercayaan diri pasien, merencanakan sesuatu yang baru untuk masa depan, mendapatkan cara-cara baru untuk menghadapi faktor-faktor yang menggangu kehidupan pasien dan tentunya meningkatkan motivasi pasien serta membentuk pasien untuk mandiri. Pembentukan kemandirian pada pasien akan menimbulkan rasa semangat dan sugesti yang baik dalam diri pasien. Pasien di arahkan untuk berpikir positif mengenai maslahnya maupun penyakitnya. Perawat dapat membantu pasien dalam memusatkan perhatian pasien terhadap harapan-harapan baru untuk hidupnya sehingga kecemasan pasien akan berkurang bahkan hilang. Selain itu dengan cara-cara tersebut akan mendorong pasien  untuk mengambil tanggung jawab atas masalah mereka dan bertindak untuk mengatasi maslah mereka tanpa harus dipendam atau disembunyikan tanpa ada penyelesaian yang berarti. Dengan demikian pasien menyadari bagaimana masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan sakit pada diri mereka.

                   Dengan asumsi di atas dapat dibuktikan bahwa penanganan psikologi pada pasien dalam dunia keperawatan juga dibutuhkan selain penanganan medis. Bahkan penanganan psikologi pada pasien dengan penyakit tertentu akan lebih membantu dalam penyembuhannya. Bisa dikatakan bahwa perawat dalam hal ini bukan hanya sebagai tenaga kesehatan namun sebagai konselor, karena perawat adalah tenaga kesehatan yang dekat dengan pasien dan keluarga pasien. Sehingga dapat  membantu pasien dalam mengurangi beban pasien, membantu pasien dalam mengungkapkan perasaan, mencegah pasien untuk mengasingkan diri dan dapat membentuk pasien menjadi pasien yang mandiri serta memiliki motivasi untuk masa depan pasien yang lebih  baik.