Penanganan Psikologi pada Pasien
Oleh : Rainy Tri Kurnianingtyas
Masalah yang terjadi pada seseorang
akan membuat seseorang stress dan depresi terlebih jika masalah itu tidak
diceritakan kepada orang lain. Masalah – masalah dalam kehidupan yang sulit
untuk diceritakan kepada orang lain sehingga hanya dapat dipikirkan sendiri tanpa
ada solusi. Masalah akan menambah beban pikiran dan bisa menyebabkan penyakit
ringan hingga fatal. Bukan hanya gangguan jiwa kadang gangguan dalam tubuh, seperti
tiba-tiba terserang penyakit dalam ataupun mudah sakit.
Banyak pasien dirujuk ke rumah sakit
untuk pemeriksaan gejala fisik ternyata tidak memiliki gangguan fisik yang
dapat menjelaskan gejalanya Sekitar
seperempat kasus baru nyeri abdomen di klinik gastroenterologi dan kasus
nyeri dada atipikal di klinik kardiologi serta sebagian besar rujukan dokter umum ke klinik neurologi tidak memiliki penyakit
fisik yang relevan ( Davis & Craig, 2009, h.35).
Dengan
kata lain bahwa tidak jelas apa penyebab dan faktor penyakit dari pasien, sehingga
pasien tidak dapat diyakinkan dan bahkan keluar dari perawatan sebelumnya dan
beralih ke klinik atau rumah sakit lain. Hal tersebut membuktikan bahwa ada
faktor lain yang mendasari penyakitnya, faktor lain dalam hal ini adalah faktor
psikologi. Dalam hal ini sebagai perawat selain memperhatikan gejala fisik yang
terjadi pada pasien perawat juga harus bisa memperhatikan gejala psikologis
yang terjadi pada pasien. Karena perawat adalah tenaga kesehatan yang paling
dekat dengan pasien dan keluarga pasien. Oleh karena itu dalam penanganan kepada
pasien, perawat harus bisa menjadi konselor yaitu dengan berkomunikasi dengan
jelas kepada pasien dan keluarga pasien, memiliki perhatian menyeluruh kepada
pasien serta membimbing dalam selfcare . Menggunakan
model psikologi perlu dalam penanganan kepada pasien .
Naismith dkk., ( 1897 ) menyebutkan
bahwa betapa bermanfaatnya konseling perawat bagi pasien-pasien dengan penyakit
jantung. Mereka berpendapat bahwa para
pasien yang cenderung mengalami kecemasan yang menerima konseling merasakan hasil yang lebih baik pada bulan ke
enam daripada mereka yang tidak mendapat
konseling ( Abraham & Shanley, 1997, h.148 ).
Namun
penanganan psikologis dalam pelayanan
kesehatan kepada pasien masih sedikit diterapkan oleh para perawat. Kebanyakan
perawat dalam penanganan pasien lebih menekankan pada penanganan fisik. Yaitu
dengan pemberian obat dan fase-fase penyembuhan medis secara terus-terus. Namun
terkadang dengan pelayanan seperti itu pasien tidak kunjung sembuh. Dengan
melihat kejadian seperti itu pelayanan kesehatan harus melihat pula dari aspek
lain bukan hanya fisik namun psikis pun penting untuk diperhatikan. Dalam hal
ini perawat seharusnya mampu melihat aspek tersebut. Penanganan psikologi
kepada pasien bisa membantu dalam penyembuhan pasien terutama pasien yang tidak
diketahui penyebab penyakitnya. Banyak orang yang terkena penyakit dalam
seperti jantung atau darah tinggi sakitnya tanpa diketahui gejala yang jelas
dan dalam perawatannya tidak kunjung ada tanda-tanda sembuh. Kebanyakan pasien
beralih kepada pelayanan yang menurutnya lebih bisa membuatnya sembuh yaitu
pergi ke dokter atau rumah sakit lain atau bahkan ke pengobatan tradisional.
Untuk dapat menerapkan aspek
penanganan psikologis pada pasien, sebagai perawat perlu memilki sikap memahami
orang lain dan pintar dalam mengelola hubungan dengan orang lain. Sebelum
memahami pasien, sebagai seorang perawat harus bisa menimbulkan kesan awal yang
baik kepada pasien. Dengan kesan awal yang baik akan menentukan bagaimana sikap
pasien terhadap perawat dan akan menciptakan suatu hubungan yang baik, sehingga
pasien kan merasa nyaman terhadap perawat tersebut. Dalam memahami orang lain
terutama pasien, sebagai seorang perawat harus mampu melihat keseluruhan aspek
pada pasien. Interaksi perawat dan pasien di rumah sakit dalam 24 jam memberi
kesempatan kepada perawat untuk bisa lebih memahami pasien. Dalam hal ini
perawat harus terbuka dalam melibatkan dirinya dengan diri pasien yang mencakup
persepsi, kecemasan , dan harapan pasien ( Abraham & Shanley, 1997 ).
Dengan demikian akan meningkatkan kepercayaan dan harga diri hubungan tersebut. Setelah
kepercayaan hubungan tersebut sudah terjalin maka perawat mulai bisa mulai
memahami pasien lebih jauh yaitu dengan melihat bagaimana pasien itu bersikap. Dengan
meperhatikan bagaimana pasien bersikap sebagai perawat dapat melihat faktor lain
dari sakit pasien. Perawat dapat melihat apakah pasien itu terdiam saja,
terlihat risau ataupun tidak bisa tidur bahkan sikapnya terlalu sensitif. Mulai
dari hal-hal itu perawat dapat menananyakan langsung kepada pasien apa yang
sedang di pikirkan oleh pasien tersebut. Ketika perawat sudah megetahui
penyebabnya perawat memberikan konseling ataupun menunjukan perhatian kepada
pasien tersebut. Salah satunya yaitu dengan berempati, dengan empati perawat dapat memahami pengalaman dan perasaan
pasien seperti yang dipahami pasien itu sendiri. Sehingga diharapkan kecemasan
yang dialami pasien akan berkurang.
Namun jika pasien tidak mau
bercerita, sebagai perawat tidak dapat begitu saja memaksakan pasien tersebut
untuk bercerita, oleh karena itu perawat harus mampu megembangkan aspek lain
untuk bisa membantu pasien dalam penanganan psikologis pasien. Salah satunya
yaitu dengan kemampuan berkomunikasi.
Banyak penelitian menunjukan bahwa
komunikasi yang tepat dapat mengurangi kecemasan pasien. Mayward ( 1975 )
menemukan bahwa dengan menyediakan informasi
ekstra dapat mengurangi rasa nyeri pasien dan mengurangi penggunaan
analgetika dan membantu pasien tidur pasien ( Abraham & Shanley, 1997, h.101
).
Dalam
hal ini komunikasi bukan hanya komunikasi pada tugas namun komunikasi yang
menekankan pada eksplorasi kecemasan pasien. Dengan komunikasi tersebut
pasien dapat memperluas percakapan atau
menyatakan permaslahan mereka sendiri tanpa dipertanyakan oleh perawat.
Membantu pasien dalam
penyembuhannya tugas perawat selanjutnya dalam penanganan psikologis pasien
untuk mengatasi masalah pasien adalah mendukung pasien dalam mempertahankan
motivasi dan melakukan tindakan. Hal tersebut dilakuakan dalam upaya
mendapatkan kepercayaan diri pasien, merencanakan sesuatu yang baru untuk masa
depan, mendapatkan cara-cara baru untuk menghadapi faktor-faktor yang menggangu
kehidupan pasien dan tentunya meningkatkan motivasi pasien serta membentuk
pasien untuk mandiri. Pembentukan kemandirian pada pasien akan menimbulkan rasa
semangat dan sugesti yang baik dalam diri pasien. Pasien di arahkan untuk berpikir
positif mengenai maslahnya maupun penyakitnya. Perawat dapat membantu pasien
dalam memusatkan perhatian pasien terhadap harapan-harapan baru untuk hidupnya
sehingga kecemasan pasien akan berkurang bahkan hilang. Selain itu dengan
cara-cara tersebut akan mendorong pasien
untuk mengambil tanggung jawab atas masalah mereka dan bertindak untuk
mengatasi maslah mereka tanpa harus dipendam atau disembunyikan tanpa ada
penyelesaian yang berarti. Dengan demikian pasien menyadari bagaimana
masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan sakit pada diri mereka.
Dengan asumsi di atas dapat
dibuktikan bahwa penanganan psikologi pada pasien dalam dunia keperawatan juga
dibutuhkan selain penanganan medis. Bahkan penanganan psikologi pada pasien
dengan penyakit tertentu akan lebih membantu dalam penyembuhannya. Bisa
dikatakan bahwa perawat dalam hal ini bukan hanya sebagai tenaga kesehatan
namun sebagai konselor, karena perawat adalah tenaga kesehatan yang dekat
dengan pasien dan keluarga pasien. Sehingga dapat membantu pasien dalam mengurangi beban
pasien, membantu pasien dalam mengungkapkan perasaan, mencegah pasien untuk
mengasingkan diri dan dapat membentuk pasien menjadi pasien yang mandiri serta
memiliki motivasi untuk masa depan pasien yang lebih baik.